Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Avi Ashkenazi, koresponden militer surat kabar berbahasa Ibrani Maariv, menggambarkan ledakan yang terjadi kemarin di sebuah bangunan di kawasan Majdal Zoun, Lebanon selatan, sebagai insiden yang “sangat serius”. Ledakan itu menyebabkan dua tentara Zionis tewas dan empat lainnya terluka.
Ia mengklaim bahwa peristiwa tersebut menunjukkan upaya Hizbullah memasuki fase baru perang gerilya dengan tujuan menantang militer rezim Zionis.
Ashkenazi kemudian mengkritik cara militer rezim Zionis merespons insiden tersebut. Ia menilai respons militer dilakukan terlambat dan dengan intensitas yang lebih rendah dari yang diharapkan. Serangan udara dan artileri, menurutnya, baru dimulai beberapa jam setelah ledakan terjadi.
Menurut analis tersebut, respons Tel Aviv seharusnya jauh lebih keras agar dapat mengirim pesan deterensi yang jelas.
Ia juga menyinggung situasi di front Gaza. Menurutnya, militer rezim Zionis, di tengah berbagai pembatasan yang diberlakukan otoritas politik, berusaha menyeimbangkan operasi militer dengan pertimbangan keamanan.
Mengutip Eyal Zamir, Kepala Staf militer rezim tersebut, Ashkenazi mengklaim bahwa pasukan Israel akan terus menjalankan kebijakan menghilangkan ancaman dan mencegah munculnya setiap ancaman keamanan di wilayah perbatasan.
Pada bagian akhir, Ashkenazi menyinggung perkembangan di Tepi Barat. Ia memperkirakan bahwa menjelang hari raya Yahudi dan rencana pembangunan permukiman baru, militer rezim Zionis akan terpaksa memindahkan sebagian pasukannya dari front Gaza dan Lebanon ke Tepi Barat.
Menurutnya, kondisi ini meningkatkan kemungkinan pemanggilan pasukan cadangan secara luas dan menunjukkan adanya tekanan serentak terhadap militer rezim Zionis di beberapa front sekaligus.
Komentar Anda